top of page

Dampak Psikologis HIV-AIDS

Ada sebuah adigum terkenal dalam dunia kesehatan yang diungkapkan oleh Decimus Iunius Iuvenalis , Mensana en comprosano (Di dalam Tubuh yg Sehat terdapat Jiwa yg Kuat). Terdapat hubungan timbal-balik antara fisik dan mental. Kondisi mental yang tertekan dapat menimbulkan penyakit fisik, begitu pula sebaliknya. Ketika emosi negatif sedang melanda pikiran, tubuh akan melepaskan hormon adrenalin, jantung berdebar lebih cepat, timbul keringat, dan akan timbul rasa nyeri di dada maupun di perut.  fenomena tersebut merupakan contoh gangguan psikis yang mempengaruhi fisik.

Pada kasus lain, penyakit fisik yang berkepanjangan, sangat mungkin menimbulkan rasa frustasi, stress, dan tekanan batin yang berat hingga berujung pada depresi, contoh kedua ini merupakan gangguan fisik yang berpengaruh pada psikis.
Penderita HIV, selain mengalami gangguan medis juag rentan mengalami gangguan psikologis. Gangguan psikologis yang berpotensi dialami penderita HIV meliputi penyangkalan, kemarahan, stress, depresi.


Penyangkalan dan kemarahan

Penyangkalan adalah penolakan terhadap kenyataan yang dihadapi, tanpa menggunakan alasan yang rasional. Penyangkalan merupakan salah satu mekanisme pertahanan psikis yang berfungsi untuk mengurangi kecemasan dan perasaan yang menyakitkan. Proses penyangkalan ini, terjadi secara implsif dan cendrung tidak rasional. Pada pasien yang baru didiagnosa positif HIV, penyangkalan dapat dilakukan dengan menolak hasil tes, atau meminta untuk didiagnosa ulang. Hal tersebut dilakukan untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan akibat diagnosa HIV positif. Secara logika, pasien yang baru didiagnosis positif mungkin percaya terhadap hasil tes, namun karena kebenaran diagnosis tersebut menimbulkan kecemasan, maka alam bawah sadar mendistorsi realitas, sehingga individu menolak untuk mempercayai fakta yang menyakitkan

 

Ketika fakta lebih dominan, dan ODHA tidak bisa lagi menyangkal fakta bahwa dirinya positif HIV, reaksi yang cendrung muncul adalah kemarahan. Kemarahan bisa dilampiaskan dengan menyalahkan diri sendiri, menyalahkan keadaan, atau menyalahkan orang lain yang telah menularkan HIV.

Stress

Pada penderita HIV, kondisi kesehatan yang menurun, ancaman penyakit dan stigma negatif dari lingkungan sekitar berpotensi menyebabkan Stress. stres  merupakan suatu  kondisi  ketegangan  yang  mempengaruhi  emosi,  proses  berfikir  dan  kondisi seseorang . gejala stress meliputi : gejala fisik, gejala prilaku, dan gejala psikis, gejala intelektual, dan gejala interpersonal.

Gejala Fisik stress  yaitu  nafas  memburu,  mulut  dan  kerongkongan  kering,  tanganlembab, rnerasa panas, otot-otot tegang, pencemaan terganggu, sembelit, letih yangtidak beralasan, sakit kepala, salah urat dan gelisah. Sedangkan gejala Perilaku,  yaitu  perasaan  bingung,  cemas  dan  sedih,  jengkel,  saiah  paham,tidak  berdaya,  tidak  mampu  berbuat  apa-apa,  gelisah,  gagal,  tidak  menarik, kehilangan  semangat,  sulit  konsentrasi,  sulit  berfikir  jemih,  sulit  membuat keputusan.

Sedangkan gejala Watak  dan  kepribadian pada stress,  yaitu  sikap  hati-hati  menjadi  cermat  yang berlebihan,  cemas  menjadi  lekas  panik,  kurang  percaya  diri  menjadi  rawan,penjengkel menjadi mudah marah. Stress juga berdampak pada aspek intelektual, dampak stress pada aspek ini meliputi :   mudah  lupa,  kacau  pikirannya,  daya  ingat  menurun,  sulit untuk  berkonsentrasi,  suka  melamun  berlebihan,  pikiran  hanya  dipenuhi  satu pikiran saja.

Gejala terakhir dari Stress adalah gejala Interpersonal,  gejala ini ditandai dengan  acuh  dan  mendiamkan  orang  lain,  kepercayaan  pada orang  lain  menurun,  mudah  mengingkari  janji  pada  orang  lain,  senang  mencari kesalahan  orang  lain  atau  menyerang  dengan  kata-kata,  menutup  din  secara berlebihan, dan mudah menyalahkan orang lain. Pada penderita HIV, kondisi stress akan berpengaruh buruk. secara medis, gejala fisik stress dapat mengakibatkan gangguan kesehatan.

Stress dapat mempengaruhi sistem imun seseorang. Pada ODHA, sistem kekebalan tubuh yang sudah melemah akibat HIV, tentu akan bertambah parah jika disertai dengan stress. Dalam konsep Psikoimunoneurologi yang dicetuskan oleh Martin, disebutkan bahwa stress dapat menyebabkan peningkatan kadar kortisol dan katekolamin sehingga akan menekan aktivasi sel imono kompeten, hal ini berakibat pada menurunya kekebalan tubuh.Jika tidak segera ditangani, stress dapat berdampak sangat buruk, baik pada psikis, maupun fisik.


Depresi

Kondisi kesehatan yang menurun, tekanan sosial, dan ancaman akan penyakit kronis dan kematian membuat ODHA cendrung mengalami masalah psikologis. Salah satu permasalahan psikologis yang sering dialami oleh penderita HIV adalah depresi. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Schulte tahun 2000, menunjukan bahwa 40% ODHA yang menjadi responden mengalami depresi.Penelitian lain yang dilakukan Chichoki tahun 2000, juga menunjukan bahwa ODHA sangat rentan mengalami depresi.

Depresi adalah bagian dari kelompok gangguan suasana perasaan (mood) yang memiliki gejala utama:  afek depresif,  hilangnya minat kegembiraan, berkurangnya energi sehingga mudah lelah dan menurunkan aktivitas dirinya. Gejala lainnya antara lain : konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, merasa bersalah dan tidak berguna, memiliki pandangan masa depan yang suram, terdapat gagasan yang membahayakan seperti bunuh diri, siklus tidur terganggu, dan nafsu makan berkurang.

Gangguan depresi dapat diklasifikasikan menjdi beberapa tipe antara lain : depresi mayor, depresi minor, Gangguan dysthmic, Gangguan depresi psikotik, gangguan deperesi musiman. Masing-masing tipe depresi tersebut memiliki gejala, intensitas, dan lama waktu yang berbeda.

Tipe depresi pertama adalah depresi mayor, depresi jenis ini ditandai gejala  perubahan nafsu makan dan berat badan, perubahan pola tidur dan aktivitas, kekurangan energi, perasaan bersalah, dan pikiran untuk bunuh diri yang berlangsung setidaknya  2 minggu. Tipe depresi selanjutnya adalah dystimia. Depresi jenis ini bersifat ringan tetapi kronis (berlangsung lama). Gejala- gejala dysthmia berlangsung lama dari gangguan depresi mayor yaitu selama 2 tahun atau lebih. Dysthmia bersifat lebih berat dibandingkan dengan gangguan depresi mayor, tetapi individu dengan gangguan ini masih dapat berinteraksi dengan aktivitas sehari-harinya

 

Depresi menyebabkan penurunan status kesehatan seseorang,   disamping itu berkurangnya, motivasi,  emosi, dan kemampuan kognitif menyebabkan individu dengan depresi menjadi tidak dapat berfungsi secara efektif sehingga terdapat ketergantungan, kehilangan percaya diri, termasuk penurunan kemampuan berkomunikasi hingga terjadi gangguan sosial yang dapat memperburuk kondisi kesehatannya, terutama bagi penderita penyakit kronis dan berulang. .  Depresi yang dikombinasikan dengan  penyakit kronik seperti AIDS akan memperburuk kondisi kesehatan dan meningkatkan risiko kematian.

Pada ODHA, depresi juga dapat diakibatkan oleh efek samping dari ARV . Beberapa obat HIV yang dapat menimbulkan depresi adalah Atazanavir,Reltegafir, Interleukin-2. . ODHA yang mengalami depresi cendrung kehilangan semangat dalam melanjutkan terapi ART, melupakan dosis terapi antiretroviral (ART) bahkan sebuah penelitian tahun 2012 memperoleh temuan bahwa pasien dengan depresi,terutama perempuan, lebih mungkin berhenti pengobatan dan tidak mencapai viral load tidak terdeteksi. Depresi pada ODHA juga dapat meningkatkan perilaku berisiko yang menularkan HIV pada orang lain. Secara keseluruhan, depresi dapat mempercepat laju penyakit HIV.

Pengobatan depresi dapat dilakukan secara medis maupun non-medis. Pengobatan secara medis, dapat dilakukan dengan mengkonsumsi antidepresan, sedangkan pengobatan non-medis misalnya akupuntur, meditasi dan relaksasi. Pengobatan dengan anti depresan, harus mendapatkan pengawasan dari dokter karena ada beberapa jenis ARV yang dapat berakibat buruk jika berinteraksi dengan antidepresan.

 

 

 

bottom of page